Obama Muslim?

Hasil polling di Amerika Serikat baru-baru ini seperti yang dikutip oleh  Lisa Miller dalam artikelnya  ‘The Misinformants: What Stealth Jihad doesn’t mean’, Newsweek, 28 Agustus 2010, menunjukkan adanya kecenderungan pembentukan opini masyarakat AS terhadap ‘keislaman’ Sang Presiden pasca persetujuan yang diberikan penghuni Oval Office tersebut terhadap pendirian sebuah mesjid di Ground Zero—lokasi bekas reruntuhan WTC—walaupun Obama tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai apakah ide tersebut mendapat dukungan atau, seperti yang terjadi saat ini,.

Bagi warga AS yang terluka untuk pertama kalinya di Land of Freedom pada serangan 9/11, kata-kata seperti Islam, Jihad, Syariah, dan Teroris memiliki korelasi yang dekat. Tidaklah mengherankan apabila upaya pendirian sebuah mesjid di lokasi tersebut dianggap sebagai kompromi pemerintahan Obama terhadap terorisme menyusul belum tertangkapnya pimpinan Al Qaeda, Usamah bin Laden, dan pasukannya yang dinilai bertanggung jawab terhadap penabrakan dua pesawat komersil pada menara Utara dan Selatan Gedung WTC pada 2001 lalu.

Dalam polling yang dilakukan Pew Research Center bulan Agustus 2010 ini disebutkan bahwa terdapat pengurangan jumlah responden yang menganggap Obama beragama Kristen. Sementara, terdapat kenaikan proporsi orang-orang yang meragukan identitas keagamaan Presiden ke-44 AS tersebut dan mendekatkan persepsi mereka pada Islam.

Pembentuk Opini Publik

Meningkatnya peranan media dan pemberitaan dalam ranah politik dan kehidupan manusia modern pada umumnya telah memberikan kemungkinan pada Obama untuk mencatatkan sejarah kemenangan demokrasi di Amerika Serikat terhadap rasialisme. Namun, lewat jalur yang sama, Obama sekarang dipersepsikan lebih dekat kepada Islam bila dibandingkan dengan periode Kampanye Presiden 2008 ketika identitas keagamaan, dalam hal nama tengah Hussein dan fakta bahwa kedua Ayahnya adalah seorang Muslim, menjadi sorotan.

Melalui survey yang sama, Pew Research Center menyebutkan bahwa televisi mencatatkan sebesar 60% kontribusi pembentukan persepsi Obama yang beragama Islam. Hal yang menjadi akar perdebatan dari pemberitaan terkait dengan penggunaan frase yang menyatakan bahwa mesji yang akan dibangun tersebut berlokasi di titik nol WTC. Padahal, menurut Matt Sledge dalam artikelnya yang dimuat 28 Juli di Huffington Post, lokasi pembangunan ‘mesjid’ bukan di Ground Zero. Lebih jauh, Sledge mengungkapkan bahwa yang dibangun pun bukan merupakan sebuah mesjid melainkan “Cordoba House” yang merupakan rumah ibadah multifungsi sekaligus untuk beberapa layanan keagamaan.

Selain media, faktor lain yang memunculkan opini Obama sebagai muslim adalah nilai politis dari pemberitaan yang dilakukan terhadap pencitraan politik sang Presiden. Bagi kebanyakan orang Amerika Serikat yang memiliki pendidikan rendah, isu ini dapat menjadi penentu bagi preferensi mereka pada pemilihan umum sela untuk anggota DPR AS (House of Representative) dan menjadi angin segar bagi Partai Republik yang masih tertinggal jumlah kursinya di Kongres AS. Selain itu, kekecewaan masyarakat Amerika Serikat terhadap kebijakan pemerintahan Obama, terutama tendensi untuk membangun hubungan positif dengan dunia Islam, dapat membuka subjektivitas individu untuk mengafiliasikan Presiden pada sesuatu yang berlawanan dengan identitas individu tersebut, dalam hal ini: Islam.

Strategi Politik

Melihat dari kalangan yang memberikan jawaban pada survey Pew Research Center juga disebutkan bahwa sepertiga dari Republican yang konservatif memberikan jawaban bahwa Obama seorang yang muslim. Hal yang sama juga bergema dari 30% kalangan yang menolak kebijakan yang dijalankan peraih Nobel Perdamaian 2009 tersebut.

Berkaca dari hasil penelitian tersebut, secara objektif, dapat disimpulkan bahwa identitas seorang politisi dalam kaitannya dengan afiliasi keagamaan menjadi salah satu cara membentuk citra bagi sang Presiden guna mengurangi dukungan politik yang diraih Obama yang semakin terdegradasi pasca beberapa kebijakan pemerintahannya seperti reformasi bidang kesehatan, pajak, dan lambannya penanganan tumapahan minyak di Teluk Meksiko.

Dan bila dilihat pula dari sisi waktu munculnya isu yang hanya berjarak tiga bulan menjelang pemilihan umum sela November mendatang, semakin jelas bahwa pemberitaan yang dilakukan mengenai sebuah ‘mesjid’ di (dekat) Ground Zero adalah strategi lawan politik Obama dan Partai Demokrat semata.

Hidup berdampingan di AS

Dengan maksud memaknai pembangunan Cordoba House sebagai tempat untuk memfasilitasi ekspresi kebebasan dalam menjalankan ibadah agama apapun di Amerika Serikat, Ground Zero merupakan tempat yang sangat sensitif bagi warga AS yang terusik solidaritas nasionalismenya. Tetapi, hal ini bukan berarti bahwa ide pembangunan rumah ibadah bersama tersebut tidak tepat. Keberadaan fasilitas ini justru dapat menjembatani komunikasi antar iman di level masyarakat akar rumput AS yang cenderung menutup diri terhadap identitas lain terutama Islam, walaupun tidak sepenuhnya demikian di segenap penjuru AS. Kota-kota seperti  Chicago, Michigan, dan Atlanta telah menjadi rumah bagi perkembangan Islam yang lebih pesat di AS dimana penganutnya dapat hidup bersama dengan mayoritas pemeluk agama lain. Pesan yang diberikan oleh ide pembangunan Cordoba House ini adalah: sekarang tiba gilliran New York.

Obama Muslim? Jawabannya adalah tidak, Sang Presiden adalah penganut Kristen.

Heru Prama Yuda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s