Identitas dan Konflik

Kadangkala saya bertanya-tanya, Kapankah orang-orang di Israel dan Palestina selesai berkonflik? Apakah mereka tidak lelah terus hidup dalam kondisi yang tidak tenang dan tidak mendukung perkembangan seseorang? Atau mengapa para imigran Palestina dan orang-orang Yahudi yang tinggal di Amerika Serikat tidak menyebarkan pesan perdamaian pada saudara mereka ke Timur Tengah sana? Mengapa sebegitu sulitnya untuk ‘mengalah untuk menang’ dalam artian menerima sedikit konsesi. Sebagai orang Indonesia, mungkin apa yang saya pertanyakan sangat tidak berhubungan dengan identitas kebangsaan saya, atau, mungkin juga sebaliknya, sangat berkaitan.

Salah satu dari sekian banyak hal yang identik dengan konflik adalah identitas. Konflik tidak mungkin terjadi bila tidak ada pihak atau ‘simbol’ yang berseberangan. Bila ada perkelahian yang ditonton massa, maka pertanyaan pertama yang terlintas dipikiran orang yang lewat adalah,”Siapa yang berkelahi?” Pentingnya elemen identitas dalam terciptanya konflik ini juga mengindikasikan aktor yang berkonflik merupakan kunci bagi resolusi konflik tersebut.

Kebiasaan yang terjadi berkaitan dengan identitas dalam konflik adalah penggunaan istilah “kami” dan “kalian” untuk membedakan dua kelompok identitas yang berkonflik. Beranjak dari dua kata sederhana yang sering digunakan dalam keseharian itu, kita dapat belajar sesuatu yang penting. Kata “kami” tidak akan pernah digunakan oleh siapapun terhadap orang yang tidak dia kenal. Bahkan, ketika seseorang berada sendirian di lingkungan yang netral, individu tunggal tersebut juga kadang menggunakan kata ganti orang ketiga jamak tersebut untuk merepresentasikan dirinya. Sebaliknya, kata “kalian” tidak pernah digunakan untuk mengafiliasikan individu yang berbicara, setidaknya dalam situasi yang normal dan wajar.

Lebih jauh, kedua kata tersebut tidak statis, melainkan dinamis mengikuti dinamika perluasan zona nyaman yang dilakukan pemakainya. Semakin luas zona nyaman seseorang, semakin banyak afiliasinya, maka semakin banyak kesempatan yang bersangkutan menggunakan kata “kami” dan semakin luas inklusivitas dari setiap kata “kami” yang diucapkannya. Sebagai contoh sederhana, orang Tegal tidak akan mengaku sebagai orang Tegal dalam sebuah pertemuan internasional untuk pertama kalinya. Kemungkinan besar, ia akan mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Secara sadar, ataupun tidak, dalam konteks lingkungan yang lebih besar kita cenderung untuk memilih identitas yang akan kita gunakan: sebagai anak Pak Parmin, warga desa Catur Tunggal, orang Jogja, atau memilih yang pasti diketahui sebagai orang Indonesia. Bila ada manusia di planet lain, mungkin istilah “manusia bumi” akan laris dalam interaksi 7 miliar manusia di Bumi bila berkomunikasi dengan teman mereka di planet lain.

Bila demikian mudahnya menginklusifkan diri terhadap suatu identitas, mengapa masih banyak konflik kekerasan yang terjadi? Jawabannya, tidak banyak orang yang secara periodik memperluas zona nyaman mereka sehingga pilihan identitas yang mereka miliki terbatas. Masih banyak orang yang lahir sampai meninggal tidak pernah keluar dari area seluas 100 km persegi.

Kemudian tantangan hidup dalam negara dengan karakter multicultural seperti Indonesia adalah bagaimana caranya agar identitas-identitas etnis, agama, dan sebagainya dapat hidup harmonis dan berdampingan satu dengan yang  lain? Bagaimana memperluas zona nyaman kita?

Jalur yang seringkali tersepelekan dalam hal memperluas zona nyaman adalah pendidikan, baik formal maupun tidak, dimana kegiatan-kegiatan yang bersifat menjembatani identitas-identitas yang ada tersedia untuk mengurangi eksklusivitas identitas tertentu. Dalam konteks konflik, interaksi antar budaya (intercultural) dan antar iman (interfaith) merupakan media paling strategis untuk mereduksi potensi konflik yang sangat tinggi di kedua jenis identitas tersebut (agama dan kepercayaan, dan etnis/ budaya).

Bentuk interaksi inter-kultural dan antar iman akan sangat bersinggungan dengan nyaman atau tidaknya seseorang dengan “kalian” mereka dan beberapa bentuk konfrontasi sangat mungkin terjadi. Tetapi dari banyak kejadian, kemungkinan seseorang untuk saling mencari persamaan dengan “kalian”-nya menjadi alasan utama mengapa bentuk kegiatan seperti pertukaran pelajar, konferensi internasional, dialog antar iman, bahkan sekedar berwisata menjadi diminati dan menjadi salah satu koin yang menyimbolkan status sosial seseorang pada level tertentu, tetapi pada tingkatan yang lebih luas bentuk kegiatan tersebut membuka jalan pada lingkaran kehidupan yang berakhir pada identitas sebagai “manusia” yang sudah lekat dengan kemanusiaannya.

Interaksi seperti ini juga menumbuhkan empati dalam diri seseorang terhadap lingkungan sosialnya karena observasi atau pengamatan yang dia lakukan dari satu tempat ke tempat lain. Seorang siswa SMA misalnya, apabila menghabiskan periode tertentu (sekitar satu atau dua semester) di lingkungan yang baru dimana dia ditempatkan pada posisi minoritas dalm hal identitas, akan memahami apa yang dirasakan oleh kelompok minoritas yang berada di lingkungan awalnya. Hal ini berlaku bagi para siswa Indonesia yang mengikuti program pertukaran pelajar ke berbagai negara setiap tahunnya, terutama bagi yang beragama Islam. Mengapa? Alasannya adalah para siswa ini diberikan kesempatan untuk belajar langsung dari masyarakat yang non-Islam tetapi memiliki keunggulan-keunggulan tertentu yang tidak mereka miliki di sekolah asal mereka. Sekembalinya dari program pertukaran tersebut, siswa ini akan menjadi orang yang lebih dewasa, memiliki empati dan membagi sensitivitas sosial yang dia pelajari pada lingkungannya di Indonesia di dalam mana dia diharapkan untuk dapat memberikan suri tauladan yang baik.

Dengan munculnya kesadaran akan kemiripan dengan “kalian”-nya, seseorang akan dengan nyaman, secara sadar maupun tidak, untuk merujuk kepada orang atau kelompok yang sebelumya disimbolkan dengan “kalian”, menjadi “kami” dengan istilah “welcome to the club!”. Saat ini, bila dibandingkan dengan populasi penduduk Bumi yang mencapai 7 miliar orang, jumlah mereka yang memiliki kesadaran akan eksistensi identitas lain dan pentingnya interaksi positif dengan mereka belumlah signifikan. Maka dari itu, dalam pemahaman saya, kegiatan-kegiatan yang memfasilitasi interaksi positif dan konstruktif antar identitas agama dan etnis menjadi sebagai bentuk pendidikan non-formal yang  sangat dianjurkan pada kelompok muda yang belum lagi terstigma dan tenggelam pada kebenaran abadi identitas atau kelompok tertentu; selama kegiatan tersebut diarahkan pada tujuan masa depan yang lebih besar yakni mewujudkan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan dan keadilan sosial.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s